Film Attack on Titan Kedua Gagal Total di Mata Kritikus Ini

Film Attack on Titan Kedua Gagal Total di Mata Kritikus Ini


Film Attack on Titan yang beredar di bioskop memang lagi heboh dibicarakan di internet, setelah live action pertamanya yang dianggap nggak banget oleh banyak kalangan, kini giliran film bagian kedua dari dua seri film Attack on Titan tersebut yang mendapat kritikan sangat pedas dari kritikus film Jepang, Toru Sano.

ATTACK-ON-TITAN-2-END-OF-THE-WORLD[Kritikan Sano berasa kayak Titan yang lagi ngamuk]

Film Attack on Titan kedua yang berjudul End of the World baru akan rilis di Jepang pada 19 September mendatang, namun sayangnya, film yang baru saja melaksanakan screening ini ternyata tidak mendapatkan respon yang cukup baik. Pasalnya nih, kritikus Toru Sano benar-benar mengatakan hal yang tidak mengenakkan untuk film yang dibintangi oleh Hiroki Hasegawa  ini. Dalam akun twitternya ia mengatakan bahwa film ini tidak layak untuk ditonton karena dibuat dengan asal-asalan. Kalau mengingat film Attack on Titan yang pertama, rasanya hampir sama ya dengan kritikan yang heboh di sosial media belakangan ini? Sano juga menambahkan bahwa film ini sangat berantakan dan ia sama sekali tidak memberikan respon yang baik dalam pembicaraannya di akun miliknya. Cukup keras memang, namun kalau kita mengingat lagi film pertamanya, rasanya memang nggak perlu berharap yang lebih deh ya.

 1280x720-gtq[Mungkin tampang Sano mukanya cengo begini waktu nonton]

Ia juga mengatakan bahwa film ini tidak fokus, Sano dibuat bingung akan kemana End of the World mau digiring. Dialog-dialog yang ada pun tidak membuat Sano puas, karena percakapan yang diberikan cenderung nggak penting banget untuk didengarkan oleh penontonnya.  Selain mengkritik film Attack on Titan, Sano juga mengkritik keras akting dari pemeran Shikishima, Hiroki Hasegawa. Shikishima adalah karakter orisinal yang pertama kali dirilis saat film pertama Attack on Titan muncul, dan karakternya sendiri, menurut saya, sebenarnya cukup tampan. Peran Levi Ackerman pun dikatakan diganti oleh hadirnya Shikishima, namun sayangnya nih, Sano nggak puas sama sekali dengan acting Hiroki Hasegawa sebagai Shikishima. Sano menjelaskan bahwa ia bukannya tidak suka dengan Hiroki, namun lebih karena perannya sebagai Shikishima. Ia juga mengatakan bahwa bisa jadi memang karena dialog dari film-nya sendiri yang nggak jelas, makanya Hiroki jadi berakting seperti itu.

Bagi kamu yang sempat nonton film animasi Battle of Surabaya, mungkin kamu merasa bahwa tempo dari film tersebut nggak jelas. Hal ini sama halnya dengan kritikan Sano terhadap film Attack on Titan, ia mengatakan dengan jelas bahwa tempo dari film ini terlalu tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Setelah beberapa adegan dirasa membangun emosi penonton, mendadak banyak sekali aksi muncul di sana-sini. Selain cerita, tempo, dan acting, Sano juga mengatakan bahwa film ini gagal untuk memperlihatkan kepiawaian special effect artist-nya. Sangat disayangkan bahwa special effect dari film ini tidak mampu memberikan hal yang terbaik untuk penontonnya, jadi kesannya nggak enak banget buat ditonton. Selama menonton film ini, Sano berpikir tentang film ini akan digiring kemana, bagaimana sesuatu terjadi dan mengapa hal tersebut terjadi tapi sepertinya dia tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya tersebut.

Attack-on-Titan-Poster[Di hajar Titan lebih mending dari dihajar Sano?]

Sungguh sangat disayangkan memang, mengingat bahwa film ini sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar dari awal, karena diangkat dari komik dan anime yang super populer dengan fan base yang super besar.

Ngomong-ngomong tentang fans nih, menanggapi kritikan super hot and spicy dari Sano ini, tidak sedikit dari mereka yang protes akan tweet dari film Attack on Titan kedua ini. Ada yang mengatakan bahwa film ini memang bukan berasal dari manga-nya, karena itu tidak masalah bila ceritanya tidak sama. Tapi yah, sebenarnya bukan hanya masalah “sama dengan manga” atau tidak, masalahnya ada pada apakah film ini enak untuk ditonton atau tidak. Mengenai film adaptasi sendiri, banyak juga film yang mengalami kendala saat melakukan adaptasi dari sebuah buku sehingga akhirnya antara berusaha untuk mengikuti tempo dari buku atau membuat cerita sendiri, seperti yang terjadi di serial TV Game of Thrones. Game of Thrones, menurut saya, sebenarnya berusaha dengan keras untuk mengikuti apa yang terjadi di buku, tapi yang namanya film, rasanya nggak bisa juga kalau film seri membawa ribuan orang ke dalam satu set sekaligus sehingga akhirnya mereka membuat cerita sendiri di beberapa bagian yang menghasilkan ketidak puasan bagi para penggemar bukunya.

AoTp2[Special effect-nya memang kurang halus sih…]

Mungkin hal ini jugalah yang terjadi di film Attack on Titan kedua ini. Sayang beribu sayang memang, karena selebriti yang dibawa oleh film ini menurut saya cukup menjual dengan adanya karakter baru pengganti karakter Levi, Shikishima, yang cukup ganteng dengan jenggotnya yang manis. Dari film pertamanya sendiri sih memang nggak terlalu berharap karena saya juga kurang bisa menikmati film pertamanya, banyak kejanggalan di sana-sini yang membuat saya terheran-heran dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam film. Tapi ya nggak ngira kalau nantinya film ini jadi seburuk ini di mata kritikus Toru Sano.

Untuk memperparah nih, Toru Sano juga mengatakan bahwa film kedua ini percuma dibuat, mending tidak usah diadakan saja dan seharusnya film Attack on Titan dibuat satu film dengan durasi 2 jam, tidak usah susah-susah membuat dua film namun akhirnya jadi begini.

Gimana menurut kalian? Kalian yang sudah berpengalaman nonton film pertamanya setuju dengan pendapat Sano? Saya sih merasa mungkin Sano berlebihan dalam memberikan kritiknya, namun mengingat film pertama, rasanya bisa jadi memang film ini seburuk itu.

Comments